JAKARTA, NortonNews.com – Kanker payudara menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, terutama karena gejalanya tidak selalu muncul dalam bentuk benjolan. Perubahan pada kulit, penebalan jaringan, rasa tidak nyaman, hingga munculnya benjolan di area ketiak juga perlu diperhatikan. Mengenali tanda-tanda tersebut sejak awal menjadi langkah penting agar seseorang dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Di lansir dari Liputan6.com – dokter spesialis bedah onkologi Denni Joko Purwanto dari MRCCC Siloam Semanggi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan yang terjadi pada payudara. Ia menegaskan bahwa kelainan yang ditemukan sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan, bukan langsung dianggap sebagai kondisi yang tidak berbahaya.
Menurut Denni, tanda yang perlu diwaspadai meliputi benjolan pada payudara, rasa tidak nyaman, penebalan kulit, serta munculnya benjolan di ketiak. Berbagai perubahan tersebut tidak selalu menandakan kanker, tetapi tetap membutuhkan perhatian agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
Pernyataan tersebut disampaikan Denni dalam acara talkshow bertajuk Every Story is Unique, Every Journey Mattersyang diselenggarakan MRCCC Siloam Semanggi di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya pemeriksaan sejak dini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker payudara.
Selama ini, benjolan sering menjadi tanda pertama yang membuat seseorang mencurigai adanya kanker payudara. Padahal, perubahan lain juga dapat menjadi petunjuk bahwa terdapat gangguan pada jaringan payudara. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa pemeriksaan tidak hanya dilakukan ketika benjolan terasa jelas atau menimbulkan rasa sakit.
Perubahan pada Payudara Tidak Boleh Diabaikan
Perubahan pada payudara dapat terlihat maupun dirasakan secara langsung. Seseorang mungkin menemukan adanya benjolan baru, perubahan ketebalan kulit, atau rasa tidak nyaman yang sebelumnya tidak pernah dialami. Benjolan juga dapat muncul di area ketiak sehingga bagian tersebut perlu diperhatikan ketika melakukan pemeriksaan mandiri.
Denni mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan suatu kelainan sebagai kondisi jinak. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab perubahan tersebut. Langkah ini penting karena tampilan dan gejala saja tidak selalu cukup untuk membedakan benjolan jinak dengan kondisi yang berpotensi ganas.
Meski demikian, menemukan benjolan bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker. Ada berbagai kondisi jinak yang dapat menimbulkan benjolan pada payudara. Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu langsung panik, tetapi juga tidak disarankan menunda pemeriksaan.
Pendekatan yang tepat adalah segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika menemukan perubahan baru yang mencurigakan. Dokter akan melakukan pemeriksaan awal dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan kondisi pasien.
Selain benjolan, perubahan pada permukaan kulit payudara juga patut diperhatikan. Kulit yang menebal, tertarik ke dalam, atau mengalami perubahan tekstur dapat menjadi alasan untuk menjalani pemeriksaan. Perubahan pada bentuk payudara maupun puting, termasuk keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting, juga sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga medis.
Penting untuk diingat bahwa tanda-tanda tersebut memiliki berbagai kemungkinan penyebab. Diagnosis kanker tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan mandiri. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan langkah penanganan yang sesuai.
Pemeriksaan Payudara Sendiri Membantu Mengenali Perubahan
Salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan adalah pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Pemeriksaan ini membantu seseorang mengenali bentuk dan kondisi normal payudaranya sehingga perubahan yang baru muncul dapat lebih mudah disadari.
SADARI dapat dilakukan secara rutin setiap bulan. Ketika melakukan pemeriksaan, seseorang perlu memperhatikan apakah terdapat benjolan, perubahan bentuk, penebalan kulit, perubahan pada puting, atau kelainan lain yang berbeda dari kondisi biasanya.
Tujuan pemeriksaan mandiri bukan untuk memastikan seseorang terkena kanker, melainkan membantu mengenali perubahan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Jika ditemukan kelainan, langkah selanjutnya adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penilaian medis.
Pemeriksaan mandiri juga tidak dapat menggantikan pemeriksaan klinis atau pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan dokter. Beberapa kelainan mungkin tidak mudah dirasakan melalui perabaan, sehingga pemeriksaan medis tetap berperan penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko tertentu.
Masyarakat juga sebaiknya tidak menunggu sampai kelainan terasa membesar atau menimbulkan rasa sakit. Perubahan yang baru ditemukan perlu diperhatikan meskipun tidak disertai keluhan lain. Semakin cepat seseorang mencari penilaian medis, semakin cepat pula penyebab perubahan tersebut dapat diketahui.
Tidak Harus Langsung ke Rumah Sakit Besar
Denni menjelaskan bahwa masyarakat yang menemukan kelainan pada payudara dapat memulai pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat. Puskesmas, klinik, dan rumah sakit dapat menjadi tempat untuk memperoleh pemeriksaan awal sesuai layanan yang tersedia.
Pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan. Bidan dan perawat yang memiliki kompetensi terkait juga dapat membantu melakukan pemeriksaan tersebut sesuai prosedur yang berlaku.
Jika ditemukan kelainan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menunda pemeriksaan hanya karena menganggap harus langsung mendatangi rumah sakit besar.
Kemudahan akses pemeriksaan menjadi hal penting dalam meningkatkan deteksi dini. Sebagian orang mungkin merasa khawatir, malu, atau takut mengetahui hasil pemeriksaan. Ada pula yang menunda karena menganggap kelainan yang dirasakan tidak berbahaya.
Padahal, pemeriksaan merupakan langkah untuk mendapatkan kepastian mengenai kondisi kesehatan. Tidak semua perubahan pada payudara merupakan kanker, tetapi pemeriksaan dapat membantu menentukan apakah seseorang membutuhkan pemantauan, pemeriksaan tambahan, atau penanganan tertentu.
Karena itu, masyarakat diharapkan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dan tidak mengabaikan perubahan yang mencurigakan. Informasi yang benar mengenai prosedur pemeriksaan juga dapat membantu mengurangi kekhawatiran sehingga seseorang lebih berani mencari pertolongan.
Pemeriksaan Lanjutan Ditentukan oleh Dokter
Ketika seseorang datang dengan keluhan benjolan atau perubahan pada payudara, dokter akan melakukan penilaian berdasarkan riwayat kesehatan dan hasil pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi atau USG payudara dan mamografi.
Pemilihan jenis pemeriksaan disesuaikan dengan usia, kondisi jaringan payudara, gejala, serta pertimbangan klinis lainnya. Tidak semua pasien membutuhkan jenis pemeriksaan yang sama. Karena itu, keputusan mengenai pemeriksaan lanjutan sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan yang mencurigakan, dokter dapat menyarankan biopsi. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium. Hasil pemeriksaan jaringan membantu memastikan apakah kelainan tersebut bersifat jinak atau ganas.
Jika kanker terdiagnosis, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan untuk mengetahui karakteristik penyakit dan membantu menentukan rencana pengobatan. Penanganan dapat berbeda pada setiap pasien, bergantung pada jenis kanker, stadium, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan.
Rangkaian pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa diagnosis kanker payudara tidak dapat ditentukan hanya dari bentuk benjolan atau gejala yang dirasakan. Penilaian medis diperlukan agar pasien memperoleh informasi yang akurat dan penanganan sesuai kebutuhannya.
Deteksi Dini Penting untuk Meningkatkan Peluang Penanganan
Deteksi dini merupakan bagian penting dalam upaya menghadapi kanker payudara. Ketika kelainan ditemukan dan diperiksa lebih awal, pasien memiliki kesempatan untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi penyakitnya. Pilihan terapi akan ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil diagnosis dan pemeriksaan lanjutan.
Selain mengenali perubahan pada payudara, masyarakat juga perlu memperhatikan faktor risiko dan menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai rekomendasi tenaga medis. Riwayat keluarga, usia, serta kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi kebutuhan pemeriksaan seseorang.
Menjaga berat badan yang sehat, rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan menghindari rokok merupakan bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan secara keseluruhan. Namun, gaya hidup sehat tidak dapat menjamin seseorang sepenuhnya terhindar dari kanker. Oleh karena itu, kewaspadaan dan pemeriksaan tetap dibutuhkan.
Masyarakat juga perlu menghindari informasi yang menyesatkan mengenai kanker payudara. Tidak semua benjolan merupakan kanker, dan tidak adanya rasa sakit bukan jaminan bahwa suatu kelainan tidak berbahaya. Pemeriksaan profesional tetap menjadi langkah paling tepat untuk mengetahui penyebabnya.
Melalui peningkatan kesadaran, pemeriksaan mandiri, dan akses terhadap layanan kesehatan, masyarakat diharapkan lebih tanggap terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh. Langkah sederhana berupa konsultasi ketika menemukan kelainan dapat membantu mempercepat proses diagnosis dan menentukan penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, pesan utama yang perlu dipahami adalah bahwa benjolan bukan satu-satunya tanda yang harus diperhatikan. Perubahan kulit, penebalan jaringan, rasa tidak nyaman, benjolan di ketiak, serta perubahan pada puting juga tidak boleh diabaikan. Masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa kelainan tersebut merupakan kanker, tetapi sebaiknya segera memeriksakannya agar mendapatkan kepastian medis.
You must be logged in to post a comment Login