NortonNews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa warna merah hingga jingga pada citra satelit NASA’s Eyes on the Earth tidak secara langsung menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta berbahaya bagi kesehatan. Citra tersebut memperlihatkan persebaran gas karbon monoksida (CO) di atmosfer, di tengah terdeteksinya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menerangkan bahwa citra satelit NASA tersebut menampilkan konsentrasi relatif karbon monoksida pada lapisan atmosfer dengan tekanan sekitar 500 milibar, atau berada pada ketinggian kurang lebih 5–6 kilometer di atas permukaan bumi.
Menurut Marjuki, warna merah dan jingga menandakan jumlah karbon monoksida di lapisan atmosfer tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Namun, tampilan itu tidak menggambarkan secara langsung kadar gas yang dihirup masyarakat dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa udara di wilayah tersebut berbahaya.
Karbon monoksida merupakan gas yang tidak memiliki warna maupun bau dan terbentuk akibat proses pembakaran tidak sempurna. Sumber gas ini beragam, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kendaraan bermotor, hingga aktivitas industri.
Marjuki menambahkan, karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer selama sekitar satu hingga dua bulan. Karakteristik tersebut memungkinkan gas terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumbernya dan menyebar ke wilayah yang luas.
Oleh sebab itu, persebaran karbon monoksida pada peta satelit dapat dimanfaatkan untuk memantau pergerakan asap di atmosfer. Meski demikian, sebaran yang luas tidak selalu menunjukkan konsentrasi gas yang tinggi di setiap wilayah.
Dilansir dari detik.com – BMKG juga memantau pergerakan lapisan asap di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat menggunakan citra satelit Himawari-9. Berdasarkan pengamatan yang disampaikan Marjuki, lapisan asap terdeteksi berada pada ketinggian sekitar 2–3 kilometer dan terbawa angin di lapisan atmosfer atas.
Keberadaan asap pada ketinggian tersebut belum tentu membuat polutan turun hingga ke permukaan bumi. Dengan demikian, langit yang tampak keruh atau kelabu akibat lapisan asap tidak otomatis menandakan bahwa kualitas udara yang dihirup masyarakat mengalami penurunan.
Meski begitu, BMKG mengingatkan bahwa perubahan kondisi angin dan atmosfer dapat menyebabkan asap berpotensi turun mendekati permukaan. Karena itu, pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan situasi.
Marjuki menegaskan bahwa pengukuran partikel halus PM2,5 di permukaan menjadi salah satu parameter penting untuk menilai dampak asap kebakaran terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat.
Masyarakat disarankan memeriksa data PM2,5 dari BMKG serta Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengetahui kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
Dengan demikian, citra karbon monoksida dari NASA tetap bermanfaat untuk memantau pergerakan asap di atmosfer, tetapi tidak dapat menggantikan pengukuran kualitas udara di permukaan. Penilaian mengenai tingkat risiko terhadap kesehatan perlu didasarkan pada data pemantauan yang sesuai dengan kondisi udara yang dihirup masyarakat.
You must be logged in to post a comment Login