Jakarata,Norton News- Sebanyak 2.357 penduduk terpaksa mengungsi setelah banjir bandang melanda beberapa daerah di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada Minggu (25/1/2026) malam. Bencana tersebut menewaskan satu orang, sementara dua warga dari Kecamatan Watukumpul dilaporkan masih hilang hingga kini.
Armin Nugroho, Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jateng, menyatakan bahwa penanganan bencana di Pemalang masih berlangsung, terutama dalam upaya membuka kembali akses ke wilayah yang terisolasi akibat kerusakan pada jembatan.
Dilansir Dari Kompas- Di Kecamatan Pulosari, banjir bandang menghancurkan beberapa jembatan penghubung antar dusun dan desa, merusak jaringan perpipaan yang sepanjang sekitar dua kilometer, serta menyebabkan ratusan rumah terdampak.
Armin menjelaskan, “Saat ini, fokus kami adalah membuka kembali akses antar dusun dan desa, serta menangani pengungsian. Pengungsi tersebar di sekitar 11 titik di desa-desa, dengan jumlah sekitar 2.350 jiwa,” saat diwawancarai lewat telepon pada Senin (26/1/2026). Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jawa Tengah, tanah longsor terjadi pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 06.00 WIB di area Perhutani, Dukuh Siranti, Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul.
Tanah longsor yang dipicu hujan deras itu menimbun satu hektar lahan pertanian padi, pekerja yang sedang berada di lokasi, serta ternak kambing. Sementara itu, banjir bandang terjadi pada Jumat (23/1/2026) sore hingga Sabtu (24/1/2026) dini hari, menerjang delapan desa di Kecamatan Pulosari dan Moga.
Hujan deras menyebabkan luapan air yang membawa material lumpur, batu, dan kayu, merusak permukiman warga serta infrastruktur. Di Desa Penakir, sebanyak 252 kepala keluarga atau 911 jiwa terdampak, dengan 12 rumah rusak parah, tujuh rusak sedang, dan delapan rusak ringan. Satu warga dilaporkan meninggal dunia.
Di Kecamatan Moga, tepatnya di Desa Sima, banjir bandang menyebabkan 33 rumah terdampak, satu rumah terbawa arus, dan 12 rumah rusak parah.
Selain itu, lima jembatan putus dan satu hektar lahan pertanian serta perkebunan terdampak. Ia menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pengungsi dipengaruhi oleh kewaspadaan masyarakat terhadap potensi banjir susulan, mengingat ramalan cuaca yang memperkirakan hujan lebat dan cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga Februari. “Menurut prediksi BMKG, intensitas hujan masih tinggi, sehingga masyarakat memilih untuk mengungsi demi menghindari risiko banjir susulan,” katanya.
Armin menekankan bahwa penanganan bencana dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, termasuk BPBD, TNI-Polri, instansi pemerintah terkait, tenaga kesehatan, dan relawan.Wakil Gubernur Jawa Tengah turut melakukan kunjungan langsung ke lokasi terdampak dan memberikan bantuan kepada warga.
Terkait kayu besar yang terbawa banjir dan menjadi perbincangan di media sosial, Armin mengungkapkan bahwa pihaknya belum memiliki kajian resmi mengenai asal-usul kayu tersebut. Hingga kini, BPBD Jawa Tengah bersama BPBD Kabupaten Pemalang masih melaksanakan evakuasi, pembersihan material banjir, dan pendistribusian bantuan logistik.
Ia menambahkan, “Kebutuhan mendesak di lokasi bencana antara lain logistik berupa makanan, family kit, selimut, pakaian layak pakai, obat-obatan, serta kebutuhan untuk bayi.”
You must be logged in to post a comment Login