WASHINGTON DC, NortonNews – Militer Amerika Serikat mulai memanfaatkan teknologi senjata laser canggih dalam konflik dengan Iran untuk menghadang serangan rudal dan drone dari Teheran. Penggunaan teknologi mutakhir ini disebut menjadi tanda dimulainya era baru dalam peperangan modern yang juga melibatkan operasi luar angkasa serta serangan siber terintegrasi.
Dikutip dari The New York Post, Rabu (4/3/2026), sejumlah kapal perusak Angkatan Laut AS yang beroperasi di wilayah Timur Tengah kini telah dipasangi sistem senjata laser bernama High-Energy Laser with Integrated Optical Dazzler and Surveillance (HELIOS). Sistem ini mampu memancarkan sinar energi berdaya tinggi yang sangat terfokus untuk menghancurkan drone yang berada di udara.
Selain milik Amerika Serikat, militer Israel juga dilaporkan mengoperasikan teknologi serupa yang disebut Iron Beam. Senjata laser ini diklaim mampu melumpuhkan roket hanya dalam beberapa detik setelah ditembakkan, terutama di wilayah perbatasan Israel–Lebanon.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer, berbagai data menunjukkan bahwa teknologi laser tersebut cukup efektif dalam pertempuran. Dalam 72 jam pertama konflik, pasukan AS dilaporkan menyerang sekitar 1.700 target dan menghancurkan lebih dari 200 peluncur rudal balistik milik Iran. Angka tersebut diperkirakan setara dengan setengah dari total peluncur yang dimiliki negara tersebut.
Keberhasilan ini juga didukung oleh peran Angkatan Luar Angkasa AS atau Space Force. Melalui satelit dengan sensor inframerah, militer AS dapat mendeteksi panas yang muncul saat rudal diluncurkan secara real-time.
Mantan profesor program Space Force di Johns Hopkins University, Brent David Ziarnick, menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan militer mengetahui lokasi peluncuran rudal secara akurat.
“Mereka dapat melihat peluncuran rudal dan menentukan titik asalnya. Setelah itu rudal bisa dicegat dan dihancurkan. Pasukan di lapangan juga langsung mendapat peringatan agar segera menuju bunker perlindungan,” ujarnya.
Informasi yang diperoleh kemudian diproses melalui sistem radar raksasa yang dikenal sebagai Radomes. Sam Eckhome, pembawa acara kanal YouTube Access Granted, menyebut jaringan tersebut sebagai salah satu sistem peringatan dini paling canggih di dunia.
“Sistem ini dirancang agar setiap peluncuran rudal bisa segera diketahui oleh Amerika Serikat,” katanya.
Selain mengandalkan kekuatan persenjataan, Komando Siber AS bekerja sama dengan Angkatan Antariksa untuk melemahkan sistem radar musuh melalui serangan malware dan perangkat lunak pengacak radar. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menyatakan bahwa sebelum operasi militer dimulai, tim siber telah lebih dulu menyerang jaringan komunikasi Iran.
Dilansir dari KOMPAS com- Langkah ini bertujuan mengganggu koordinasi dan membuat sistem pertahanan Iran menjadi kacau. Operasi siber tersebut bahkan disebut menembus hingga tingkat personal. Intelijen Mossad juga mengklaim telah meretas banyak kamera lalu lintas di Teheran selama bertahun-tahun untuk memantau pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Efektivitas teknologi tersebut terlihat dari minimnya kerugian di pihak Amerika Serikat dan Israel. Dalam empat hari pertempuran, AS hanya mencatat enam korban jiwa tanpa perlu mengerahkan pasukan darat dalam jumlah besar.
Mantan kolonel Angkatan Antariksa AS, Bree Fram, menilai bahwa perang modern kini lebih mengandalkan teknologi dan kecerdasan strategi dibandingkan kekuatan fisik di medan tempur.
“Tidak adanya pengerahan besar-besaran pasukan bersenjata di darat menunjukkan bahwa kekuatan militer saat ini dibangun dengan teknologi ekstrem serta kemampuan intelektual untuk mengoperasikannya,” ujarnya.
Hingga kini, operasi militer Amerika Serikat masih terus berlangsung dengan fokus pada upaya melumpuhkan jaringan komunikasi rahasia yang masih digunakan para pemimpin Iran setelah pemerintah negara itu memutus akses internet nasional.
You must be logged in to post a comment Login