Jakarta,NortonNews- Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi memberi dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Penutupan Selat Hormuz serta pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dikhawatirkan mengganggu jalur perdagangan global dan mendorong kenaikan biaya logistik dalam waktu dekat.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menyatakan dampak paling cepat yang akan dirasakan Indonesia adalah terganggunya rute perdagangan, terutama menuju kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk dan strategis untuk perdagangan energi dan komoditas global kini ditutup, sementara kapal-kapal niaga dilarang mendekat. Kondisi ini berisiko memperlambat arus ekspor dan impor Indonesia dalam waktu dekat.
Selat Hormuz sendiri merupakan pintu utama distribusi minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Teluk. Gangguan di jalur tersebut tidak hanya berdampak pada perdagangan ke Timur Tengah, tetapi juga bisa merembet ke rute menuju Eropa dan Afrika yang terhubung melalui jalur itu.
Shinta menilai pelaku usaha harus bersiap menghadapi lonjakan biaya perdagangan akibat meningkatnya risiko keamanan. Premi asuransi pengiriman diperkirakan naik karena perusahaan pelayaran dan penjamin menghitung potensi kerugian akibat konflik. Di sisi lain, pembatasan pelayaran dan berkurangnya kapal yang melintas membuat kapasitas angkut menyusut. Ketidakseimbangan antara jumlah kapal dan kebutuhan pengiriman ini berpotensi memicu kenaikan tarif logistik ke Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, sehingga biaya ekspor-impor Indonesia bisa meningkat dalam waktu relatif singkat.
Menurutnya, dampak langsung tersebut kemungkinan mulai terasa dalam beberapa hari hingga dua sampai tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi konflik.
Dilansir dari Kompas com- Selain gangguan perdagangan, kondisi ini juga berisiko menekan inflasi domestik, terutama pada barang impor dari kawasan terdampak, mulai dari bahan bakar minyak hingga komoditas konsumsi seperti kurma. Tekanan harga berpotensi semakin terasa karena bertepatan dengan momen Ramadhan dan Lebaran saat permintaan meningkat.
Lebih jauh, konflik di Timur Tengah juga perlu diwaspadai dari sisi ketahanan fundamental ekonomi nasional. Gejolak harga minyak dunia dapat memengaruhi beban impor energi, subsidi pemerintah, cadangan devisa, neraca pembayaran, serta nilai tukar rupiah.
Karena itu, Apindo berharap pemerintah dapat secara antisipatif memantau ketahanan ekonomi dan bergerak cepat menyiapkan stimulus produktivitas, khususnya untuk mendorong ekspor dan investasi asing langsung (FDI). Langkah tersebut dinilai penting agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan pertumbuhan nasional tidak terdampak oleh efek rambatan konflik global.
You must be logged in to post a comment Login