Terbaru

Airlangga Ungkap Strategi Vietnam Tumbuh Lebih Cepat, RI Diminta Naik Kelas

Jakarta, NortonNews.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Vietnam mampu melaju lebih cepat dibandingkan Indonesia.

Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata masih berada di kisaran 5 persen, sementara Vietnam mampu mencapai sekitar 9 persen. Menurutnya, Indonesia perlu memperluas pengembangan industri agar tidak hanya mengandalkan sektor hilirisasi.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mendorong sektor digitalisasi, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Kesempatan untuk naik dari lima (pertumbuhan ekonomi lima persen), kita rata-rata lima kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai sembilan persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi semikonduktor AI,” ungkap Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Airlangga menjelaskan, Vietnam dinilai sudah lebih dahulu bergerak menuju industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sementara itu, Indonesia masih banyak mengembangkan sektor industri berbasis sumber daya alam.

Ia menggambarkan perkembangan ekonomi seperti sebuah eskalator. Dari sektor pertanian, perekonomian perlu bergerak menuju industri, kemudian dilanjutkan ke digitalisasi dan sektor jasa modern.

“Kalau kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, jadi dari agriculture kita naik eskalatornya ke industri, namun dari industri ini harus dinaikkan lagi ke digitalisasi, services, dan lain-lain. Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana, maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan, maka pertumbuhan 8% itu bisa dicapai,” ujar Airlangga.

Vietnam Punya KEK Lebih Luas

Selain perkembangan industri teknologi, Airlangga menyoroti keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai salah satu faktor yang membuat Vietnam lebih menarik bagi investor.

Vietnam disebut memiliki sekitar 2 juta hektare kawasan ekonomi khusus. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan Indonesia yang memiliki sekitar 24 ribu hektare KEK.

“Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani dan sebetulnya dari segi kepastian usaha mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor. Jadi kita tentu ada persaingan dengan Vietnam,” kata Airlangga.

Akses Pasar Internasional Jadi Keunggulan Vietnam

Dilansir dari Liputan6.com – Airlangga juga menjelaskan bahwa keunggulan Vietnam terdapat pada sektor perdagangan internasional. Vietnam dinilai lebih dahulu memiliki perjanjian ekonomi dengan Eropa serta mendapatkan keuntungan dalam hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat.

“Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita. Namun mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor,” ungkap Airlangga.

Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar. Pemerintah pun berupaya memanfaatkannya untuk memperkuat permintaan dalam negeri, salah satunya melalui pengembangan energi surya.

Airlangga menyebut pemerintah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt peak untuk meningkatkan permintaan domestik.

“Bapak Presiden mendorong bahwa ini untuk meningkatkan domestic demand dengan agenda untuk mendorong 100 gigawatt peak daripada solar panel,” ucap dia.

Selain itu, pengembangan energi surya tersebut akan dikaitkan dengan ekosistem baterai yang memanfaatkan hasil hilirisasi nikel di Indonesia.

 

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

You May Also Like

Nasional

Jakarta,Norton News- Dwi (40), seorang pengemudi ojek online, tampak pasrah saat mengungkapkan keluhannya soal potongan aplikasi yang kian mencekik. Dengan program baru berbayar per...

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Copyright © 2022 - 2024 Norton News. All Rights Reserved.