JAKARTA, NortonNews – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia teknologi. Namun, di balik kemampuan AI yang semakin canggih, terdapat kebutuhan sumber daya yang tidak sedikit, salah satunya air untuk mendinginkan pusat data atau data center.
Data center membutuhkan sistem pendingin agar perangkat komputasi yang bekerja terus-menerus tidak mengalami panas berlebih. Semakin besar kapasitas pusat data dan beban kerja AI yang dijalankan, semakin besar pula kebutuhan energi dan air untuk menjaga sistem tetap beroperasi.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal *Nature*, data center dengan kapasitas 1 megawatt (MW) dapat menggunakan hingga sekitar **25,5 juta liter air per tahun** hanya untuk kebutuhan pendinginan. Jumlah tersebut disebut setara dengan kebutuhan air harian sekitar 300 ribu orang.
Dilansir dari detik.com – tingginya konsumsi air tersebut menjadi perhatian karena pertumbuhan AI diperkirakan akan mendorong pembangunan data center dalam skala yang semakin besar. Penggunaan air untuk pendinginan juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap ketersediaan air, terutama di wilayah yang sudah menghadapi persoalan kelangkaan air.
Selain kebutuhan pendinginan, AI juga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menjalankan proses komputasi, termasuk saat melatih dan mengoperasikan model AI. Aktivitas tersebut menghasilkan panas dalam jumlah tinggi sehingga sistem pendingin harus bekerja secara terus-menerus.
Persoalan konsumsi air menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI secara global. Sebuah studi memperkirakan kebutuhan air yang berkaitan dengan AI dapat mencapai sekitar 1,7 triliun galon secara global pada 2027. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital juga memiliki konsekuensi terhadap pengelolaan sumber daya alam.
Di sejumlah wilayah, kebutuhan air data center bahkan telah menjadi perhatian masyarakat. Pengembangan pusat data yang berdekatan dengan permukiman menimbulkan kekhawatiran terkait pasokan air dan dampak lingkungan.
Di Indonesia, isu tersebut juga mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya pembangunan data center berbasis AI. Salah satunya terlihat dari pembangunan pusat data AI di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, yang memiliki kapasitas listrik hingga 120 MW dan dapat dikembangkan hingga 640 MW. Besarnya kapasitas tersebut membuat kebutuhan air untuk sistem pendinginan turut menjadi perhatian.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan industri AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan investasi. Pengelolaan energi serta sumber daya air juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam pembangunan data center agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan.
Sejumlah pengelola data center mulai mempertimbangkan teknologi pengelolaan air yang lebih efisien. Di Batam, misalnya, BP Batam mendorong pengembangan sistem *Sea Water Reverse Osmosis* (SWRO) atau desalinasi air laut bagi industri data center untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku yang juga digunakan masyarakat.
You must be logged in to post a comment Login