Nasional

Turis Terdampar selama 5 Hari di Labuan Bajo, Harus Naik Kapal selama 33 Jam ke Bali

Kondisi kapal rute Labuan Bajo-Bali yang penuh penumpang karena bandara internasional komodo ditutup. (Foto: Dokumentasi. Alfia)

Jakarta, Norton News – Dikutip dari Kompas.com Alfia, seorang wisatawan dari Jakarta, sedang dalam perjalanan laut menuju Bali ketika di wawancara melalui telepon oleh Kompas.com pada Kamis (14/11). 

Dia terjebak di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama lima hari karena Bandara Internasional Komodo ditutup, akibat erupsi Gunung Lewotobi.

Berangkat dari Jakarta pada Jumat (8/11) dan berencana pulang keesokan harinya, Sabtu (9/11), ternyata tidak dapat ia lakukan. Pesawat yang seharusnya berangkat Sabtu sore pukul 16.00 Wita dari Labuan Bajo menuju Jakarta tidak dapat terbang. Besoknya, pada Minggu (10/11), saya mencari informasi dan mengetahui bahwa bandaranya sedang tutup. Beli tiket pesawat hari Senin kemudian dibatalkan.

Baca Juga: Letusan Gunung Lewotobi Menewaskan 10 Orang, Satu Orang Masih Terjebak

Alfia mengatakan bahwa saat dia mencoba membeli tiket pesawat pada hari Selasa, bandaranya tutup. Melihat situasi penerbangan yang tidak stabil, Alfia memutuskan untuk membeli tiket kapal Pelni seharga Rp 277.000. 

Kondisi kapal rute Labuan Bajo-Bali yang penuh penumpang karena bandara internasional komodo ditutup. (Foto: Dokumentasi. Alfia)

Jadwal keberangkatan kapal tersebut adalah pukul 23.00 Wita pada Rabu (13/11). Ini adalah pertama kalinya ia naik kapal dalam hidupnya. Saya rela melakukan perjalanan 33 jam ke Bali dengan KM Binaiya, lalu terbang ke Jakarta, untuk bertemu keluarga yang sudah hampir seminggu saya tinggalkan. Dalam pikiranku, ketika naik kapal, bisa memilih antara kelas 1 atau kelas 2. 

Alfia berkata, “Karena ini darurat, kami semua disini ngemper.” Kapal yang memiliki lima lantai tersebut diisi dengan turis asing. Alfia memperkirakan ada setidaknya 1.000 orang di kapal tersebut.

Beruntungnya, kapal menyediakan WiFi gratis untuk penumpang dan juga makanan pagi, siang, dan malam. “Dia terkejut saat menyadari bahwa dia terdampar selama 33 jam seperti ini,” ucapnya. Selama beberapa hari pembatalan penerbangan, Alfia tinggal di hotel dan terus memperpanjang masa menginapnya. 

Baca Juga: Menurut BMKG, Debu dari Gunung Lewotobi telah sampai ke Pulau Lombok

Hotel juga menyarankan tamu, termasuk stafnya, untuk mengenakan masker karena debu vulkanik sedang mengendap. 

Mereka menyediakan masker karena debu nya sudah mulai turun. Alfia menyarankan untuk menggunakan masker. Awalnya saya hanya berencana menginap semalam setelah mengikuti Labuan Bajo Marathon (LBM) 2024, tapi akhirnya saya malah menginap selama lima malam.

Hotel juga sepi. Sudah siapkan kamar di hotel saya untuk tamu, tapi belum ada tamu datang karena tidak ada yang pergi ke Labuan Bajo,” kata Alfia. Tahun lalu, saat pergi ke acara lari yang sama, Alfia tidak mengalami hal ini. 

Semua berjalan dengan baik sesuai rencana. Meskipun sebenarnya sebelum pergi minggu lalu, dia memeriksa aktivitas erupsi Gunung Lewotobi melalui berita. Tapi menurutku, tidak berbahaya karena panitia acara dan pemerintah sepertinya masih aman. “Ya sudahlah, kami berangkat,” kata Alfia.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

You May Also Like

Otomotif

JAKARTA, NORTON NEWS – Seiring dengan bocoran gambar yang diduga kuat merupakan Mobil keluaran terbaru yaitu Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, sejumlah diler di...

Scholar

Oleh: Mikhael Yulius Cobis, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta Editor: Rudi, NORTON News Stuart Henry McPhail Hall, FBA yang biasa dikenal dengan Stuart...

Nasional

Berasal dari bahasa sunda nama Curug berasal dari dua suku kata yaitu "Cur" yang berarti cai atau air, dan kata "Rugu" yang artinya ngocor...

Copyright © 2022 - 2024 Norton News. All Rights Reserved.