Jakarta, Norton News – dikutip dari en.antaranews.com, Ketegangan geopolitik seperti konflik Laut China Selatan dan krisis di Myanmar masih menjadi tantangan terbesar bagi ASEAN, menurut Joanne Lin Weiling, ko-koordinator ASEAN Studies Centre di ISEAS–Yusof Ishak Institute, Singapura.
Pernyataan tersebut disampaikan Lin dalam seminar yang diselenggarakan The Habibie Center bertajuk “Navigating a Fragmented Multipolar World: Can ASEAN Continue to Deliver a Balancing Act?” pada Rabu (19/6). Berdasarkan hasil survei State of Southeast Asia 2025, konflik di Laut China Selatan menempati posisi tertinggi sebagai kekhawatiran geopolitik utama kawasan.
“Secara kelembagaan ASEAN cukup solid, tapi secara geopolitik kita menghadapi tantangan yang signifikan,” ujarnya.
Perbedaan pandangan antarnegara anggota memperumit posisi ASEAN dalam menyikapi isu-isu strategis. Lin mencontohkan Filipina yang bersikap lebih tegas terkait Laut China Selatan, berbeda dengan sikap hati-hati negara lain. Hal serupa terjadi dalam menangani krisis Myanmar, di mana negara anggota memiliki pendekatan berbeda terhadap keterlibatan dengan junta militer.
Ketidaksepakatan juga muncul saat ASEAN mencoba menyikapi konflik eksternal seperti perang Israel–Hamas, yang menyulitkan penyusunan pernyataan bersama.
Meski demikian, Lin menegaskan bahwa survei menunjukkan kepercayaan publik masih kuat terhadap solusi yang dipimpin ASEAN. Untuk memperkuat ketahanan dan relevansi, responden menyarankan penguatan kerja sama ekonomi kawasan serta integrasi yang lebih dalam dengan mitra sejalan di luar ASEAN.
You must be logged in to post a comment Login