Pantauan harga pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Jakarta, Norton News – Dilansir dari CNBC Indonesia, Harga telur di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi, dengan rata-rata US$4,95 per lusin pada Januari 2025 (sekitar Rp 80.957). Kenaikan ini dipicu oleh wabah flu burung yang berkepanjangan sejak 2022, yang memperburuk kelangkaan pasokan dan mendorong inflasi pangan. Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan bahwa harga telur melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan titik terendah US$2,04 pada Agustus 2023.
Kenaikan harga ini berdampak besar pada rumah tangga dan industri makanan, terutama di beberapa wilayah di mana harga telur bahkan menembus US$10 per lusin (Rp 163.550). Telur varian khusus, seperti organik dan bebas kandang, mengalami lonjakan harga yang lebih tajam. Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan harga telur akan terus meningkat sekitar 20% sepanjang 2025, dengan puncak kenaikan menjelang perayaan Paskah akibat lonjakan permintaan musiman.
Selain wabah flu burung, meningkatnya biaya produksi juga berkontribusi pada kenaikan harga. Peternak menghadapi lonjakan biaya pakan, bahan bakar, dan tenaga kerja akibat inflasi. Mereka juga harus berinvestasi lebih besar dalam sistem biosekuriti untuk mengurangi risiko penyebaran virus. Pada Januari 2025, lebih dari 23 juta unggas dimusnahkan, setelah sebelumnya 18 juta unggas dimusnahkan pada Desember 2024. Mayoritas unggas yang dimusnahkan adalah ayam petelur, yang semakin memperketat pasokan telur di pasar.
Regulasi baru di beberapa negara bagian, seperti California, Massachusetts, dan Oregon, yang mewajibkan penjualan hanya untuk telur dari sistem bebas kandang, juga memengaruhi pasokan. Sistem peternakan ini lebih rentan terhadap gangguan ketika terjadi wabah karena jumlah peternakan yang memenuhi standar lebih terbatas dibandingkan peternakan konvensional.
Akibatnya, harga telur di AS diperkirakan akan terus meningkat, memperburuk tekanan inflasi dan menjadikan telur sebagai barang mewah bagi sebagian masyarakat. Kebijakan pemerintah serta respons industri akan menjadi faktor penentu apakah harga telur dapat kembali stabil dalam waktu dekat atau semakin membebani konsumen dan pelaku usaha.
Produksi Menurun, Telur Jadi Kontributor Inflasi
Pada Desember 2024, produksi telur di AS mencapai 9,12 miliar, turun 3% dari tahun sebelumnya. Produksi ini mencakup 7,83 miliar telur konsumsi dan 1,29 miliar telur tetas. Populasi ayam petelur juga mengalami penurunan, dengan rata-rata 373 juta ekor pada Desember 2024, atau turun 3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan produksi ini berdampak langsung pada inflasi AS, yang melonjak tajam pada Januari 2025. Inflasi mencapai 0,5% secara bulanan (month to month/mtm), tertinggi sejak Agustus 2023, dan 3,0% secara tahunan (year on year/yoy), tertinggi sejak Juni 2024. Inflasi inti juga meningkat menjadi 3,3% (yoy), naik dari 3,2% pada Desember 2024.
Harga telur menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi, dengan kenaikan 15% secara bulanan dan 55% secara tahunan pada Januari 2025. Situasi ini menambah beban ekonomi bagi masyarakat, sementara langkah-langkah stabilisasi harga masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan industri peternakan.
You must be logged in to post a comment Login